ujian 3 minggu!!

Posted on 23.14
btw,, da lama ya ga update blog di diary.

bulan desember kemaren bnr2 bulan yang melelahkan bgt!!

tugas bejibun ampe ga sempet nulis2 lagi di blog....

tapi,, penderitaan bulan desember ternyata belom berakhir n malah minta nambah di bulan januari!!

dari tanggal 7 Januari-22 Januari  2008 aku uas semester 5!! 3 minggu ujian bo!! mana tugas2 juga masih banyak yang belom beres lagi!!

ngebayanginnya dah cape bgt....

tapi,, ya teteup jalanin aja!!


Wanita sebagai Single Parent


dalam Membentuk Anak yang Berkualitas


Oleh: Okvina Nur Alvita


 


Fenomena single parent beberapa dekade terakhir ini menjadi marak terjadi di berbagai negara di seluruh dunia. Pada tahun 2003, di Australia terdapat 14% keluarga dari keseluruhan jumlah keluarga masuk dalam kategori single parent, sedangkan di Inggris pada tahun 2005 terdapat 1,9 juta single parent dan 91% dari angka tersebut adalah wanita sebagai single parent[1]. Berdasarkan data tersebut dapat memberikan gambaran tingginya keluarga yang berstatus sebagai single parent.


Menurut Deacon dan Firebough (1988)[2] ada beberapa faktor yang mempengaruhi status single parent. Faktor-faktor tersebut antara lain: kehamilan sebelum menikah, kematian suami atau istri, perpisahan atau perceraian dan adopsi. Data di Inggris menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga yang berstatus single parent adalah wanita sebagai kepala keluarga merangkap sebagai ibu rumah tangga, dalam kata lain wanita menjalankan peran ganda. Fakta yang terjadi di Inggris tersebut akan menunjukkan hal sama yang terjadi pada negara lain termasuk Indonesia. Menjadi single parent dan menjalankan peran ganda bukan merupakan hal yang mudah bagi seorang wanita, terutama dalam hal membesarkan anak. Hal ini dikarenakan, di satu sisi ia harus memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya (pemberian kasih sayang, perhatian, rasa aman) dan di sisi lain ia pun harus memenuhi semua kebutuhan fisik anak-anaknya (kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan materi). Artinya, wanita yang berstatus sebagai single parent harus mampu mengkombinasikan antara pekerjaan domestik dan publik demi tercapainya tujuan keluarga yang utama, yakni membentuk anak yang berkualitas. Bukan hal yang mudah menjalankan dua peran tersebut sekaligus dalam membentuk anak yang berkualitas. Oleh sebab itu dibutuhkan manajemen keluarga khusus dan matang agar anak yang dibesarkan pada kondisi keluarga single parent pun sama berkualitasnya dengan anak yang dibasarkan pada keluarga utuh.


 


Kematangan Wanita sebagai Single Parent


Seperti yang telah disebutkan pada sebelumnya bahwa keluarga yang berstatus single parent disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang ada itu mempengaruhi kematangan wanita sebagai seorang single parent. Kematangan dalam segi fisik dan terutama psikologis menjadi faktor yang utama yang dibutuhkan untuk keberhasilan wanita sebagai single parent dalam membesarkan anaknya. Wanita sebagai single parent yang sangat riskan dalam membesarkan anaknya adalah disebabkan oleh kehamilan sebelum menikah, karena sebagian besar kehamilan sebelum menikah terjadi pada remaja. Remaja belum memiliki kematangan yang cukup untuk menjadi single parent. Pada kasus ini dibutuhkan dukungan yang lebih besar dari keluarganya untuk menyiapkannya menjadi seorang single parent. Pada kasus lain yang menyebabkan wanita menjadi single parent (perpisahan atau perceraian, kematian suami atau istri, dan adopsi), dirasa tidak terlalu bermasalah pada kematangan wanita tersebut (terutama alasan adopsi karena ada keinginan internal dari wanita untuk memiliki dan membesarkan anak, artinya ia telah benar-benar siap dengan segala konsekuensi sebagai single parent) karena pada kondisi itu wanita dinggap telah dewasa dan telah mampu menghadapi segala perubahan yang terjadi, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap membutuhkan jangka waktu tertentu untuk beradaptasi dengan kondisi yang baru.


Kematangan wanita yang berstatus sebagai single parent merupakan hal yang utama dibutuhkan dalam mebesarkan serta mendidik anak-anaknya. Hal tersebut dikarenakan, kematangan pada wanita sebagai single parent dapat mempengaruhi caranya dalam memanajemen diri dan keluarganya, terutama dalam membentuk anak yang berkualitas.


 


Manajemen Keluarga pada Keluarga Berstatus Single Parent


Orang tua sebagai single parent harus menjalankan peran ganda untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Sebagai single parent, wanita harus mampu mengkombinasikan dengan baik antara pekerjaan domestik dan publik. Dalam hal ini, kematangan fisik dan psikologis merupakan faktor yang sangat vital dibutuhkan untuk melakukan manajemen keluarga.


Wanita yang berstatus single parent dimana ia harus mencari uang untuk menafkahi keluarganya dan juga harus memenuhi kebutuhan kasih sayang keluarganya harus melakukan perencanaan yang matang dalam pengorganisasian kegiatanya menjalankan peran ganda. Dalam melakukan perencanaan tersebut, ia harus mengkomunikasikan rencana yang telah ia buat pada keluarga terdekatnya (orang tua, paman atau bibi), terutama yang akan dimintai bantuan nantinya.


Setelah dilakukan perencanaan, maka ia harus melaksanakan rencana yang telah ia buat. Apabila diperlukan, maka ia bisa juga meminta bantuan pada keluarga terdekatnya untuk membantu kegiatan keluarganya selama ia diluar rumah untuk mencari nafkah, tentunya ia harus mengkomunikasikan hal ini sebelumnya dengan orang yang bersangkutan.


Hal terakhir yang harus dilakukan dalam memanajemen keluarga yang berstatus single parent adalah dengan mengevaluasi semua kegiatan yang telah berlangsung di keluarga. Evaluasi diperlukan untuk meninjau apakah kegiatan keluarga yang telah berlangsung, terutama yang dihandle oleh anggota keluarga yang lain sesuai dengan harapannya atau tidak. Disamping itu, evaluasi juga dibutuhkan membenahi perencanaan keluarga selanjutnya.


 


Manajemen Wanita sebagai Single Parent dalam Membentuk Anak yang Berkualitas


            Membentuk anak yang berkualitas merupakan tugas dari semua orang tua, begitu pula dengan single parent. Akan tetapi, ada beberapa hal khusus yang harus dilakukan oleh single parent agar anaknya berkembang sama seperti anak-anak pada keluarga lengkap. Hal tersebut antara lain sebagai berikut:


·         Pengganti Figur Orang Tua yang Hilang


Wanita sebagai single parent harus mampu menjadi ibu bagi ana-anaknya sekaligus memenuhi kebutuhan anaknya akan figure seorang ayah. Menjalankan dua peran tersebut bukanlah hal yang mudah. Senada dengan yang diungkapkan oleh Elly Risman, Psi [3]Sudah suratan takdir laki-laki tak akan _ega menjadi ibu seutuhnya, begitu juga ibu tak _ega sepenuhnya mengisi peran ayah”. Lebih lanjut lagi ia menjelaskan bahwa dalam kasus single parent, wajib hukumnya bagi ayah atau ibu yang menjadi orang tua tunggal untuk tetap menghadirkan sosok ayah atau ibu yang tidak ada selama membesarkan anak-anaknya. Mengenai siapa yang _ega dihadirkan sebagai pengganti salah satu orang tua yang tidak ada, menurut Elly, _ega merupakan keluarga terdekat, seperti paman-bibi, kakek-nenek. Pokoknya kerabat sedarah yang tidak mengizinkan adanya pertalian nikah (muhrim). Tak mesti sosok pengganti salah satu orang tua ini berada bersama anak setiap saat. “Cukup selama dua tiga hari atau saat melakukan kegiatan tertentu, seperti belanja ke pasar atau mal bersama nenek dan bibi, sedangkan pergi ke bengkel atau berolahraga dengan paman.” Dengan demikian apa yang tidak didapatkan anak dari salah satu orang tua tetap _ega terpenuhi. “Oh, kita harus bersikap begini rupanya kalau jadi laki-laki,” atau, “Seperti ini rupanya dunia perempuan.”


·         Alokasi Waktu yang Efektif


Menjadi single parent sebetulnya mempunyai sisi baik dari segi keleluasaan waktu yang dimiliki. Ibu/Ayah, hanya berperan membesarkan anak, tidak ada suami/Istri yang harus dilayani dan dimanja-manja,seperti ketika _egati Ayah dan Ibu berada satu atap. Dengan demikian seorang single parent memiliki kelebihan waktu[4].


Wanita sebagai single parent yang menjalankan peran _egative dan publiknya secara bersamaan harus memiliki manajemen waktu yang efektif. Apabila ia berada di tempat kerja, maka ia harus mengkonsentrasikan diri sepenuhnya pada pekerjaannya, dan sebaliknya, apabila ia telah berada di rumah, maka ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya terutama pada anak-anaknya. Ia harus menemani anaknya makan, belajar, ataupun membacakan dongeng sebelum tidur.


·         Komunikasi dengan Anak Harus Selalu Dijaga


Manusia sanggup mencintai dan dicintai, ini adalah hal esensial bagi pertumbuhan kepribadian. Kehangatan persahabatan, ketulusan kasih _egati, dan penerimaan orang lain amat dibutuhkan manusia. Anak sangat membutuhkan kasih _egati dari kedua orang tuanya. Kasih _egati yang tidak terpenuhi akan menimbulkan perilaku anak yang kurang baik. Anak akan menjadi agresif, kesepian, frustrasi, bahkan mungkin bunuh diri. Kondisi seperti itu sangat rentan terjadi pada anak dengan kondisi keluarga single parent. Maka orang tua perlu berkomunikasi dengan anak, agar dia tidak merasa kesepian. Orang tua mendengarkan cerita anak, dan sebaliknya orang tua juga menceritakan apa yang sedang dia alami. Jadikan anak sebagai sahabat, agar masing-masing pihak saling mengerti dan memahami situasi yang dialami[5].


 


 


·         Menerapkan Disiplin


Penerapan disiplin pada keluarga single parent menjadi lebih mudah dilaksanakan karena hanya ada satu sumber komando dari Ibu atau Ayah saja[6]. Pada kasus wanita sebagai single parent, anak akan mendapatkan disiplin dari ibunya saja. Akan akan lebih mudah untuk mengerti disiplin yang ditetapkan di keluarganya. Yang perlu diperhatikan adalah, ibu harus menerapkan disiplin yang ada dengan tegas sekaligus penuh kasih sayang. Selain itu, ibu perlu mengkomunikasikan disiplin yang berlaku pada anggota keluarga lain yang membantunya menggantikan figur seorang ayah bagi anaknya.


·         Menjaga Hubungan Interpersonal dengan Anak


Dalam keluarga single parent, hubungan interpersonal antara orang tua dengan anak sangatlah penting untuk dijaga. Menjaga hubungan interpersonal dengan anak dapat dilakukan dengan menjaga komunikasi serta meluangkan waktu khusus bersama anak. Hubungan antara anak dengan orang tua menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan anak berperilaku prososial ketika berinteraksi di lingkungan sosial yang lebih luas Oleh karena itu, hubungan yang terjalin dengan baik antara orang tua dengan anak menentukan keberhasilan anak dalam menjalin hubungan secara interpersonal dengan orang lain[7].


·         Persepsi Positif Terhadap Anak


Kadangkala sebagian single parent, wanita merasa stress dengan beragam pekerjaan yang menumpuk di kantor ditambah lagi dengan kerumitan permasalahan rumah tangga, terutama yang berkaitan dengan anak yang rewel. Kondisi tersebut seringkali menyebabkannya berpersepsi negatif (menganggap anak ini  nakal, makannya rewel, tidak menghargai waktu saya dan berbagai persepsi awal  _egative lainnya) terhadap anak yang dapat menyebabkannya melakukan perbuatan kasar terhadap anak (seperti mencubit, memukul, memarahi, dll). Tanpa kita sadari persepsi negatif mampu memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan anak serta kepribadian anak pada masa dewasanya.


Persepsi mengarahkan tindakan kita. Tindakan kita akhirnya  memicu reaksi dari anak. Reaksi dari anak akan memicu pemikiran tertentu. Pemikiran ini akan membentuk persepsi anak tentang dirinya sendiri. Akhirnya  konsep diri anak terbentuk[8].


Berdasarkan ilustrasi diatas, jelaslah bahwa peranan orang tua sangat besar dalam membentuk konsep diri anak. Maka dapat disimpulkan bahwa wanita sebagai single parent haruslah selalu menjaga persepsi positif pada anak jika ingin memiliki anak yang berkualitas.


 


Wanita sebagai single parent saat ini telah banyak dijumpai pada berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Sebagai single parent, wanita harus mampu mengkombinasikan peran ganda yang harus dijalankannya, terutama dalam menjalankan tugas utamanya, yakni membentuk anak yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka ia harus melakukan manajemen sumberdaya keluarga yang terencana dan dilaksanakan secara konsisten. Manajemen sumberdaya keluarga tersebut sangat penting untuk dilaksanakan agar semua kebutuhan anak dapat terpenuhi yang pada akhirnya padat membentuk anak yang berkualitas. Berikut ini adalah beberapa tips yang berguna bagi orang tua terutama wanita sebagai single parent dalam membesarkan anak-anaknya.


 


Tips untuk Orang Tua, Terutama Wanita sebagai Single Parent[9]


1.      Tunjukkan kasih sayang. Setiap hari, katakan padanya, "Ibu sayang kamu, kamu buah hatiku". Beri ia banyak sentuhan dan ciuman.


2.      Dengarkan ketika anak-anak bercerita. Beri pula komentar dan dengar kembali apa reaksi mereka.


3.      Ciptakan rasa aman. Lindungi mereka jika mereka merasa takut. Perlihatkan bagaimana Anda selalu berusaha melindungi mereka.


4.      Sediakan semua kebutuhannya. Buat jadwal makan, tidur, main, Jika Anda mengubah jadwal, katakan padanya.


5.      Puji. Ketika mereka belajar sesuatu yang baru atau berperilaku baik, katakan padanya, Anda bangga padanya.


6.      Kritik perilaku yang salah, bukan anaknya. Jika anak berbuat kesalahan, jangan katakan, "Kamu salah!" Sebaliknya, jelaskan padanya, kesalahan yang telah dilakukannya. Misalnya; "Berlari ke jalan raya tanpa melihat kiri-kanan, sangat berbahaya, lo. Jadi, harus tengok kanan-kiri dulu." Ini jauh lebih baik dan bijaksana dibanding Anda mengatakan, "Kamu ini bagaimana, sih? Kok, main nyelonong saja!"


7.      Konsisten. Aturan Anda tidak harus sama dengan aturan di keluarga lain. Yang pasti, harus selalu jelas dan konsisten. Konsisten berarti aturan mainnya sama setiap waktu. Jika kedua orang tua membesarkan anak, keduanya harus menggunakan aturan yang sama. Juga pembantu, saudara, harus mengikuti dan mengetahui aturan yang Anda buat bersama.


8.      Lewatkan waktu bersama anak. Pergi atau main bersama, mem-bersihkan rumah bersama. Pendek kata, selalu libatkan anak. Yang di-butuhkan anak adalah perhatian. Jika ia bertingkah laku buruk, biasanya berarti ia mencari perhatian Anda.







[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Single_parent. Diakses tanggal 2 Januari 2008.




[2] Deacon, Ruth E dan Firebough, Francile. M. 1988. Family Resources Management. Massachusetts: Allyn and Bacon, Inc.












Revitalisasi Khazanah Budaya Indonesia melalui Pengasuhan dalam Keluarga


Oleh: Okvina Nur Alvita


 


Masih segar dalam ingatan kita bagaimana media yang ada (baik cetak maupun elektronik) memberitakan berbagai macam kebudayaan Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, yang terbaru adalah Reog. Reog merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia yang disinyalir oleh Malaysia merupakan kebudayaan asli negaranya. Sebagai bangsa Indonesia tentunya kita tidak rela budaya warisan leluhur diakui oleh negara lain sebagai kebudayaan asli negaranya, apalagi jika negara yang berasangkutan sampai mematenkan kebudayaan itu. Namun, di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut sampai terjadi karena kelalaian dari masyarakat Indonesia dalam mempertahankan eksistensi kebudayaannya sendiri. Jika kita melihat generasi muda saat ini, hanya sedikit yang benar-benar mau konsisten mempertahankan kebudayaan warisan nenek moyangnya. Sebagian besar dari mereka lebih mengenal kebudayaan asing daripada kebudayaan asli Indonesia, maka tak heran jika negara lain sampai “mengakui” kebudayaan asli Indonesia merupakan kebudayaan negaranya.


Adanya penurunan prioritas kecintaan terhadap budaya Indonesia yang terjadi pada generasi muda Indonesia saat ini dapat dikarenakan generasi muda Indonesia kurang mendapat sosialisasi tentang budaya-budaya asli Indonesia dalam keluarganya. Sejak usia dini, mereka telah terbiasa dengan kebudayaan dari negara lain, misalnya saja lagu-lagu dari luar negeri dan komik dari jepang. Keadaan ini diperparah dengan tuntutan ekonomi yang semakin tinggi sehingga orang tua kurang memiliki waktu bersama anak. Dampaknya, orang tua kurang memiliki waktu lebih untuk bersama-sama anaknya dalam memperkenalkan budaya asli Indonesia. Oleh  karena itu, tidak mengherankan jika generasi penerus bangsa sekarang kurang memiliki pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya kelestarian budaya dan kesenian asli Indonesia.


Fenomena menurunnya kecintaan generasi muda Indonesia saat ini - yang lebih familiar dengan budaya yang berasal dari luar Indonesia - harus segera diantisipasi agar generasi penerus bangsa pada masa yang akan datang tidak kehilangan jati diri asli bangsa Indonesia, yang terefleksikan melalui beranekaragamnya budaya dan kesenian Indonesia. Upaya antisipasi tersebut dapat dilakukan melalui revitalisasi khazanah budaya Indonesia, yaitu melalui pengasuhan dalam keluarga.


Keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak memegang peranan penting dalam internalisasi kebudayaan asli Indonesia dalam dirinya. Dalam hal ini, orang tua sebagai primary caregiver harus mampu menjalankan fungsi dan peranannya semaksimal mungkin. Sebagai agen sosialisasi, orangtua berperanan penting dalam mengembangkan anak dan memiliki identitasnya melalui racial socialization (Hughes, 2003)[1]. Brooks (2001)[2] menyatakan bahwa orang tua harus berperan sebagai buffer antara anak dan lingkungan. Sebagai buffer antara anak dan lingkungan, hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan mengajarkan nilai dari budaya mereka kepada anak, mengajarkan nilai dari budaya yang umum berlaku pada masyarakat, dan mengajarkan realitas sebagai anggota ras/suku tertentu dan bagaimana mengatasi perbedaan dengan realitas yang ada sehingga diperoleh rasa bangga sebagai suatu suku bangsa bagi perkembangan anak sendiri.


Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke menyebabkan kayanya budaya yang ada di Indonesia. Begitu juga dengan orang tua, orang tua yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dapat menjadi aset yang penting dalam mengajarkan kebudayaan pada anak.


Orang tua yang berasal dari daerah yang berbeda tentunya memiliki kebudayaan yang berbeda, sehingga memang tak dapat dipungkiri jika kadangkala orang tua yang berasal dari kebudayaan yang berbeda memiliki perbadaan dalam hal kebiasaan dan cara mengasuh anak. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi penghambat bagi orang tua dalam mengajarkan kebudayaan Indonesia pada anaknya. Justru sebaliknya, orang tua yang berasal dari kebudayaan yang berbeda dapat mengajarkan pada anak lebih banyak ragam budaya yang ada, sehingga anak memiliki referensi lebih banyak tentang kebudayaan yang ada di Indonesia.


Dalam hal mengasuh dan mengajarkan kebudayaan Indonesia serta memasukkan nilai-nilai budaya yang ada pada anak, orang tua harus menyamakan persepsi terlebih dahulu sehingga nantinya dapat meminimalisir kebingungan pada anak dalam mempelajari kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Selain itu, orang tua juga harus menggunakan metode pengasuhan yang bersifat universal, yaitu tidak memihak pada salah satu kebudayaan tertentu, dan mengutamakan kebaikan yang bersifat universal. Hal lainnya yang penting juga dilakukan oleh orang tua adalah menutupi kekurangan yang ada pada satu kebudayaan, dan lebih mengutamakan hal-hal positif yang ada pada kebudayaan tersebut serta mengajarkan atau setidaknya memperkenalkan pada anak seluruh kesenian yang ada pada kebudayaan orang tuanya. Seperti yang diungkapkan oleh Don Antonio Ulloa dalam The Peopling of the Americas: Anglo Stereotypes and Native American Realities (1772)[3] bahwa “orang Indian adalah orang Indian, jika Anda melihat seorang Indian, berarti Anda melihat semua orang Indian”, hal yang serupa seharusnya bisa terjadi di Indonesia jika orang tua mampu mengajarkan pada anak tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia.


Bentuk kongkrit dari pengasuhan orang tua yang dapat menanamkan semua unsur kebudayaan yang ada pada anak-anak mereka adalah sebagai berikut:


·         Menerapkan gaya pengasuhan yang demokratis


·         Mendongeng pada anak sebelum tidur


·         Mendengarkan musik daerah bersama-sama dengan anak


·         Mengajarkan bagaimana cara memainkan alat musik tradisional


·         Membuat suasana rumah (termasuk perabotan rumah) bernuansa kebudayaan yang ada di Indonesia


·         Bertamasya ke tempat-tempat wisata yang sekaligus dapat memberikan pembelajaran pada anak tentang kebudayaan Indonesia (misalnya ke TMII, candi Borobudur, candi Prambanan)


·         Memperkenalkan pada anak tentang keanekaragaman budaya Indonesia melalui buku


·         Menggunakan internet bersama-sama untuk mencari informasi lebih lengkap tentang kebudayaan yang ada di Indonesia


·         Mengenakan pakaian tradisional (batik, songket, kebaya) tidak haya pada acara-acara tertentu saja, namun juga dalam keseharian (bukankah batik saat ini telah diproduksi untuk beragam jenis pakaian)


Indonesia memiliki budaya yang sangat beragam. Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia merupakan suatu uniqueness capital bagi Indonesia. Namun, hal tersebut tidak akan ada artinya jika tidak dilestarikan oleh generasi penerus bangsa. Keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak memegang peranan penting dalam internalisasi kebudayaan asli Indonesia dalam dirinya. Dalam mewujudkan hal tersebut, maka keluarga terutama orang tua harus menjalankan fungsi dan perannya semaksimal mungkin. Diharapkan dengan pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua dan dukungan dari masyarakat dan pemerintah, kebudayaan Indonesia dapat terus eksis sampai kapanpun.







[1] Hughes (2003) dalam Hastuti, Dwi dan Alfiasari. 2007. Pengasuhan Menurut Budaya, Ras dan Bangsa. Modul mata kuliah Pengasuhan, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.




[2] Brooks (2001) dalam Hastuti, Dwi dan Alfiasari. 2007. Pengasuhan Menurut Budaya, Ras dan Bangsa. Modul mata kuliah Pengasuhan, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.




[3] Don Antonio Ulloa (1772) dalam Hastuti, Dwi dan Alfiasari. 2007. Pengasuhan Menurut Budaya, Ras dan Bangsa. Modul mata kuliah Pengasuhan, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.




pro kontra golden generation

Posted on 21.54
saya akan coba untuk menjawab pertanyaan2  tentang golden generation, namun kalau misalnya ada yang kurang jelas bisa langsung kita diskusikan. but, honestly I said that I'm very proud of you who read my article n still want to thinking about our nation's problems

1.Asupan konsumsi susu, telor,daging,ikan dan sumber makanan lbergizi rata-rata orang Indonesia dengan negara lain kita kalah jauh. Orang indonesia msh banyak yang (maaf) menceret minum susu. Disini ada persoalan budaya (perlu gerakan budaya baru)India, Pakistan, Banglades biar miskin tapi karena tututan agama/kepercayaan minum susu 6 liter/Hari maka lahirlah dsana generasi ungul dalam IT dan menguasai Amerika&eropa (baca pemain utama perangkat lunak dunia)Jawab: yang saya informasikan adalah saat tahun 80an, kebutuhan anak2 akan gizi terpenuhi, bukan di zaman sekarang.
2.Bagaimana hubungannya dengan manusia unggul…Kalau dalam sepak bola kita lihat dari fisik, kenapa orang Indonesia lebih pendek dari malaysia, singapura…or korea apalagi japan.Padahal dari kelahiran sama 80-an juga.Hal ini bukan semata-mata masalah genetik… benarkah memang kita ada masalah dengan Gizi???

Jawab: memang bukan cuma masalah genetik, tapi genetik juga pegang pengaruh penting, pernah tahu the shape of body? ada orang yang bentuk badannya melebar ke samping, ada yang cenderung kurus-tinggi dan ada juga yang proporsional. Shape of our body supported by genetic n also intake nutrition
3. Bicara kepemimpinan nasional baik swasta, pemeritahan, NGO dan kampus, Lahirkah manusia unggul jadi pemimpin (Lihat Pilpres).Saya melihat masih di dominasi kaum tua 60 tahun keatas.Hal ini berbeda dengan zaman dulu orang jadi pemimpin dari kaum muda, cerdas, jujur, berintegritas tinggi. Apakah mereka bukan generasi unggul….? Sekarang siapa yang dikatakan unggul, benarkah kelahiran 80-an???
adakah peminpin yang hebat dari generasi 80-an…??? atau setidaknya tanda-tanda muncul….msh tanda tanya.Generasi 80-an masih banyak di jalanan,putus sekolah,jadi pelacur biar bisa sekolah,penganguran,apa benar ini generasi emas? TKW apa ada generasi 70-an,apa yang terjadi sekarang,bukankah banyak 80-an? mereka adalah umur produktif menempa ilmu, dan mustinya sdh tau merawat anak ketika menikah nanti? maka kemunduranlah yang terjadi skarang. Walaupun qt bangga pd kelahiran 80-an ada muncul generasi olimpiade, namun kontras toh dengan jumlah usia sekolah yang masih belum bisa baca.

Jawab: ada pergeseran mindset dari masyarakat Indonesia, dulu orang yang berpendidikan yang dianggap sbg "orang penting" karena saat itu Indonesia masih dalam masa penjajahan n sebagian besar warganya uneducated. tapi saat ini orang Indonesia lebih mementingkan pengalaman n orang yang telah hidup lebih lama dari pada kita dianggap lebih berpengalaman n bisa lebih dipercaya.

sebenarnya semua orang itu generasi unggul, namun hal tsb tergantung dari banyak faktor,, gizi, stimulasi dari lingkungan, lingkungan yang kondusif, personality traits, dan potensi diri.

"adakah peminpin yang hebat dari generasi 80-an…??? atau setidaknya tanda-tanda muncul….msh tanda tanya", JAWAB: memang masih tanda tanya n kitalah yang harus menjawabnya terutama yang telah mengenyam pendidikan yang lebih dari rata-rata pendidikan orang Indonesia. namun, pendidikan saja tidak cukup, good character memiliki peranan yang cukup besar dalam mewujudkan SDM yang benar2 handal.

"Generasi 80-an masih banyak di jalanan,putus sekolah,jadi pelacur biar bisa sekolah,penganguran,apa benar ini generasi emas? TKW apa ada generasi 70-an,apa yang terjadi sekarang,bukankah banyak 80-an? mereka adalah umur produktif menempa ilmu, dan mustinya sdh tau merawat anak ketika menikah nanti? maka kemunduranlah yang terjadi skarang. Walaupun qt bangga pd kelahiran 80-an ada muncul generasi olimpiade, namun kontras toh dengan jumlah usia sekolah yang masih belum bisa baca" JAWAB: itu merupakan suatu permasalahan bangsa yang harus kita selesaikan bersama n terutama diselesaikan oleh generasi kelahiran tahun 80an yang dari segi gizi terpenuhi dengan cukup sehingga perkembangan otak (akademis) juga bisa berkembang normal karena kebutuhan akan protein terpenuhi. saya tekankan sekali lagi, generasi 80an punya modal dasar berupa fisik  otak yang apabila dibandingkan dengan generasi setelah 90an (yang termasuk dalam kategori Lost Generation) jauh lebih baik shg kemungkinan untuk memperbaiki bangsa ini lebih besar. dan saya tekankan sekali lagi, fisik n otak juga tidakcukup kalau tidak didukung dengan good character dari tiap individunya.
4.Benarkah ada nasionalisme berlebihan….?? Nasionalisme dalam hal apa…?? atau etno nations kali…?

Jawab: itu kan hanya kemungkinan saja, saya takut kalau ada orang yang terlalu cinta sama bangsa Indonesia sampai tidak mau belajar dari bangsa lain.
5. apa kriteria golden Generation vina….??

Jawab: Kriteria golden generation dalam Historical time of generation in Indonesia waktu saya kuliah pengantar ekoloogi keluarga adalah asupan gizi yang cukup dan keadaan yang jauh dari konflik sehingga menyebabkan kebutuhan anak akan protein terpenuhi dan tumbuh kembang anak menjadi optimal.

Golden Generation? mari kita lihat sekitar, moral kaum muda semakin jauh dari norma, apalagi nilai2 agama. apakah hanya dikarenakan 80an swasembada pangan kemudian dapat disebut generasi emas? kualitas manusia tidak hanya dipupuk dengan pangan, tapi dengan pendidikan yang bermoral, agama, dan berkarakter.
Jawab:betul, oleh karena itu saya katakan bahwa "pertanyaannya sekarang adalah, apakah anak-anak GG mampu membawa bangsa ini lepas dari semua permasalahan yang selama ini membelit bangsa Indonesia tercinta kita? jawabannya it’s depend on their character (good character), their motivation n their optimism"terima kasih sebelumnya, ini bisa menjadi masukan yang sangat membangun bagi saya.

bagi pembaca yang lain jangan ragu untuk berkomentar atau memberi saran atau memberi saya informasi tambahan juga boleh...

Golden Generation

Posted on 00.51
berawal ketika saya mengikuti kuliah Pengantar Ekologi Keluarga, saat itu dosen saya sedang memberikan materi tentang historical time of generation in Indonesia.

saat itu saya baru tahu kalo ternyata anakyang lahir tahun 80-an termasuk dalam kategori "Golden Generation" (GG). namun ironisnya, setelah Indonesia mampu menghasilkan generasi terbaik, keadaan menjadi berbalik. anak2 yang dilahirkan pada dasawarsa selanjutnya masuk dalam kategori "Lost Generation"(LG, bukan merk barang elentronik lho ya!), terutama anak-anak yang lahir pada puncak krisis moneter terjadi.

saat ini, anak-anak yang masuk dalam kategori  GG sebagian besar sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan sebagian yang lain baru memulai kariernya. coba kita bayangkan kita forward time pada 20 tahun yang akan datang, apa yang terjadi pada anak-anak GG? mereka yang memegang jabatan dalam bidang ekonomi, politik, sosial, pemerintahan dan sebagainya. intinya pada 20 tahun mendatang anak-anak GG yang akan menjadi penetu bagaimana keadaan bang Indonesia.

anak-anak GG telah memiliki modal dasar yaitu, pertumbuhan fisik yang baik sehingga pertumbuhan otaknya juga optimal karena saat 80-an bisa dikatakan bahwa Indonesia mencapai masa kejaannya, terutama dengan tercapainya swasembada pangan. asumsinya adalah dengan tercapainya swasembada pangan, maka kebutuhan penduduk Indonesia akan bahan pangan terpenuhi sehingga anak-anaknya bergizi baik sehingga tumbuh-kembangnya dapat berjalan dengan optimal. intinya, anak-anak GG telah memiliki modal dasar berupa kesehatan fisik dan kemampuan intelegensia yang cukup.

pertanyaannya sekarang adalah, apakah anak-anak GG mampu membawa bangsa ini lepas dari semua permasalahan yang selama ini membelit bangsa Indonesia tercinta kita? jawabannya it's depend on their character, their motivation n their optimism.

anak-anak GG haruslah memiliki karakter yang kuat dan motivasi serta optimisme yang tinggi dalam diri mereka.

karakter yang kuat dapat dicirikan dengan sifat jujur, saling percaya, bertanggung jawab, penghormatan pada diri sendiri dan orang lain serta lingkungan. hal ini penting untuk ada dalam setiap individu, karena merupakan social capital suatu negara.

motivasi dan optimisme juga penting untuk dimiliki dalam jiwa tiap individu karena dengan motivasi dan optimisme yang tinggi kita akan tergerak untuk melakukan sesuatu dan membuat suatu perubahan. tinggal tujuannya saja yang harus ditentukan, mau tujuan yang baik atau sebaliknya.

untuk semua generasi muda bangsa Indonesia,, mari kita bersama-sama membangun bangsa ini dan yakinlah kalau suatu saat nanti bangsa Indonesia mampu mengatasi semua permasalahan yang ada dan kembali bangkit dari keterpurukan. semua itu tergantung pada kita dan yang terpenting lagi adalah karena kita merupakan satu-satunya generasi tumpuan harapan bangsa ini bisa membalikkan kondisinya sebab generasi setelah kita termasuk dalam kagori LG yang sebagian tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk memberikan kontribusi yang cukup untuk membangun bangsa Indonesia tercinya kita....

semoga setelah membaca artikel ini, anda menjadi tercerahkan untuk memiliki karakter, motivasi serta optimisme untuk membangun tanah air tercinta karena kitalah tumpuan bangsa. tidak perlu hal  yang bombastis dalam memberikan kotribusi untuk bangsa Indonesia, n nggak perlu mulai saat kamu lulus kuliah. mulai sekarang pun kita sudah bisa memberikan kontribusi untuk bangsa ini, misalkan saja membuang sampah tidak sembarangan, membiasakan kalo belanja bawa kantong dari rumah supaya mengurangi penggunaan plastik, menularkan pemikiran kita untuk membuat bangsa ini bangkit dari keterpurukan, membiasakan diri untuk antri, menghargai dan menghormati diri sendiri dan orang lain, berperilaku jujur, bertanggung jawab, saling percaya diantara sesama, tolong-menolong, never give-up dan masih banyak lagi hal2 kecil yang bisa dilakukan mulai saat ini...

kita memang harus memiliki nasionalisme,, tapi juga ingat,, jangan berlebihan karena itu bisa juga jadi bumerang untuk bangsa kita nantinya.

intinya,, lakukanlah yang terbaik yang kita bisa untuk bangsa Indonesia tercinta ini, ok?

need more time than 24hr/day?

Posted on 19.35
pernah ngerasa nggak sih waktu 24 jam yang sudah disediakan Tuhan untuk kita rasanya kurang??
saat ini saya sedang merasakan hal itu...
banyak sekali rencana-rencana yang ingin saya wujudkan...
impian-impian yang harus jadi kenyataan...
tapi kadang saya merasa cepat sekali satu hari terlewati
kuliah yang padat (semester ini saya ambil 24 sks = 8 mata kuliah, 7 mata kuliah ada praktikum)
tugas yang nggak ada habisnya
belum lagi kegiatan saya diluar kewajiban sebagai mahasiswa (organisasi, kursus bhs inggris, mengelola usaha yang sedang berkembang, dan juga waktu luang untuk refreshing)
seandainya saya memiliki 92 jam dalam sehari tentu masih banyak hal yang bisa saya lakukan dengan optimal (karena saya tahu potensi yang saya miliki)

saya sudah belajar pengantar manajemen dan saat ini saya sedang mengambil mata kuliah manajemen sumberdaya keluarga,, tapi tetap saya saya merasa sumberdaya waktu yang saya miliki selalu kurang
mungkin karena saya adalah orang yang ambisius
tapi saya merasa ambisi itu penting supaya kita selalu optimis dalam menjalani kehidupan dan memiliki motivasi tinggi untuk mencapai semua impian kita.
tidak semua orang memiliki optimisme serta motivasi tinggi
ada yang bilang "let it flow"
menurut saya kata-kata tersebut kurang mendidik karena orang akan tidak memiliki optimisme dan motivasi tinggi yang dapat membentuknya menjadi seorang individu yang memiliki etos kerja tinggi (seorang pekerja keras)

optimisme dan motivasi tinggi sangat penting ada dalam sifat dan perilaku kita, namun kita juga harus ingat, sejauh mana atau seberapa besar potensi kita
jadi tidak cukup hanya dengan optimisme dan motivasi saja untuk mencapai semua impian, tapi juga harus disesuaikan dengan potensi yang kita miliki
namun apabila kita memiliki potensi yang cukup besar alangkah baiknya jika dibarengi dengan optimisme dan motivasi yang tinggi
kita pasti bisa mencapai semua keinginan kita dan mewujudkan impian kita!!
hal itu harus selalu tertanam dalam diri kita
dan yang tidak kalah penting adalah selalu berdoa pada Tuhan
yakinlah bahwa segala sesuatu yang Tuhan beri untuk kita adalah yang terbaik untuk kita karena kita tidak akan pernah tahu apa rahasia dibalik sesuatu yang terjadi dalam hidup kita
banyak sekali anugerah yang telah Tuhan beri untuk kita sampai rasanya terlalu banyak yang harus kita syukuri...

jangan pernah patah semangat karena kegagalan yang pernah terjadi dalam hidup
karena seharusnya justru kegagalan itulah yang menjadikan kita "geregetan" untuk mencapai kesuksesan dan juga untuk bisa lebih merasakan manisnya suatu keberhasilan

jangan pernah berhenti untuk mencoba dan menjemput sesuatu yang kita inginkan
karena tidak ada hasil tanpa usaha
urusan hasil,, belakangan,,ok??

my celebrity look-alikes 2

Posted on 00.23
dulu waktu SMA ada yang bilang aku mirip siti nurhaliza n sekarang aku buktikan... mata ma senyum yang mirip...


MyHeritage.com: Family trees - Genealogy - Celebrities - Collage - Morph